BRMP Sulut Ikut Sosialisasi Hilirisasi Perkebunan
Bogor, Upaya memperkuat penyediaan benih perkebunan bermutu demi suksesnya program hilirisasi perkebunan terus dijalankan. Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Sulawesi Utara (Sulut) yang diwakili Fredy Lala, dan Suratini, hadir dalam sosialisasi pengawalan dan monitoring di Bogor pada Jumat (28/08).
Direktur Perbenihan Perkebunan Ebi Rulianti, menegaskan bahwa hilirisasi perkebunan bermula dari benih yang berkualitas. Peningkatan produktivitas dan produksi perkebunan sangat bergantung pada mutu benih yang ditanam petani di lapangan.
Penyediaan benih bermutu dijalankan melalui tiga strategi terpadu. Produksi benih bekerjasama dengan penangkar sesuai standar teknis, penempatan lokasi perbenihan berdekatan kawasan pengembangan, serta pengembangan kawasan dari benih hasil produksi sendiri.
Verifikasi, koordinasi, pengawalan, dan monitoring menjadi kunci agar strategi ini berjalan sesuai rencana. BRMP memiliki peran vital dalam memastikan setiap tahapan mulai produksi hingga penyaluran benih berjalan transparan dan akuntabel.
Anggaran telah dialokasikan untuk mendukung pengawalan produksi hingga tahap distribusi benih. Tujuh komoditas perkebunan prioritas menjadi sasaran, yaitu tebu, kopi, kakao, kelapa, pala, lada, dan jambu mete.
Pengawalan mutu benih tidak dilakukan sendirian, melainkan melibatkan unsur teknis terkait. Pengawas Benih Tanaman, Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih, serta Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman turut serta menjamin kualitas benih yang disalurkan ke masyarakat.
Kehadiran tim BRMP Sulut di Bogor menjadi langkah awal penyelarasan kebijakan pusat dan daerah. Sinergi ini penting agar arah pengawalan benih di Sulut selaras dengan standar nasional yang ditetapkan.
Komoditas kelapa dan kakao yang menjadi andalan Sulut tentu akan mendapatkan penguatan pengawalan melalui arahan kebijakan ini. Penyediaan benih bersertifikat dan terverifikasi menjadi prioritas utama dalam hilirisasi perkebunan daerah.
Sosialisasi ini diharapkan menjadi pedoman teknis yang jelas bagi BRMP Sulut dalam melaksanakan tugas pengawalan di lapangan. Pada akhirnya, mutu benih terjamin, produksi meningkat, dan kesejahteraan petani perkebunan pun terangkat.